Niat Membaca Berita


Kita, melihat dunia secara lebih dekat dan jelas melalui media masa. Tetapi, alih-alih membaca berita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kompresensif tentang suatu perkara, kita sejujurnya tidak benar-benar mencari hal itu.

Yang sering terjadi, saat kita membaca berita, kita sedang mencari pembenaran dari pendapat pribadi maupun kelompok kita sendiri. Hal itu tercermin dari pilihan media yang kita kunjungi, dan respon kita terhadap "siapa" yang menerbitkannya.

Diakui atau tidak, kita akan dengan senang hati membagikan berita bila isinya sesuai dengan “apa yang kita inginkan” dan bersesuaian dengan pandangan politik atau ideologi. Sementara itu, dalam kenyataannya kebenaran berita tidak selalu sama dengan “apa yang kita inginkan”.

Kebenaran juga bisa muncul dari media yang bertentangan dengan pandangan politik kita. Betapapun media massa katanya sudah terikat dengan prinsip, nilai, dan kode etik jurnalistik, yang menjamin independensi dan objektifitas terbitannya, tetap saja media massa itu hanyalah produk pemilik media yang secara langsung atau tidak, memiliki kecenderungan terhadap pilihan politiknya.

Ketika kita mencoba melihat dan menilai apa yang terjadi di dunia melalui media massa, sebenarnya kita sedang melihat dari sudut pandang orang yang membuatnya. Dalam hal ini tentu adalah para jurnalis, editor, pemimpin redaksi, bahkan pemilik media yang kita sama-sama tahu arah pilihan politiknya. Pilihannya ada pada Anda sendiri, mau dengan kacamata siapa anda ingin melihat dunia?

Dalam banyak kasus, kita sudah bisa menebak sikap apa yang akan ditujukan media A dan B terhadap sebuah perkara, sebut saja soal banjir. Seperti penokohan pada cerita saja, media massa afiliasi pemerintah tentu akan bicara “terus diupayakan” sementara media oposisinya sudah menjadi keharusan untuk mengatakan “dinilai gagal”. Mungkin, istilah "dunia ini adalah panggung sandiwara" ada benarnya juga.

Lantas, apa yang membuat kita percaya pada berita di media bila sebenarnya kita sudah tahu latar belakang pilihan politik mereka, yang sedikit banyak memengaruhi isi berita? Bagaimana kita dapat menentukan kebenaran dari dua berita yang berkebalikan fakta antara satu dengan yang lainnya?

Jawabannya, ada pada niat kita sendiri dalam mencari informasi. Apakah aktivitas “mencari informasi” itu untuk “mendapatkan pemahaman yang komprehensif”, ataukah kita sebenarnya hanya mencari dalih untuk menguatkan argumentasi pribadi atau kelompok kita sendiri.

Bila mencari informasi itu diniatkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, maka kita harus dengan lapang dada membaca berita dari berbagai sisi. Itu akan membuat kita menjadi lebih adil dalam menilai suatu persoalan. (sm)
© Syahid Muhammad. All rights reserved. Developed by Jago Desain