المشاركات

Tentang Pram: Perkenalanku Dengan Pramoedya Ananta Toer



(Foto: CNN Indonesia)

Kalau ada sesuatu yang harus aku sesali dalam hidup, itu bukan karena aku pernah mencintai seseorang namun harus berpisah di tengah perjalanan, heuheuhue becanda. Tetapi, itu karena aku, baru membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer pada usiaku yang ke 20 tahunan. Seharusnya, aku bisa membaca karyanya pada usiaku yang lebih muda lagi, mungkin semasa SMA.

Sudjiwo Tedjo, seorang budayawan, yang juga terkenal sebagai seorang dalang nyentrik, pernah sesumbar dengan mengatakan bahwa, orang yang tidak tahu kisah Ramayana tentu saja masih boleh hidup di dunia, tetapi percayalah, katanya, hidup kalian mungkin tidaklah lengkap. Ah, jnc*k koe mbah!

Aku juga berani mengatakan hal yang sama. Aku juga bisa mengatakan, kalau kalian belum membaca satu atau dua karya Pram, begitu Ia akrab disapa, mungkin kalian belum mendapatkan perspektif yang berbeda mengenai hidup dan kehidupan kita ini. Asik.

Perkenalanku dengan Pram, terjadi lantaran aku pernah mendengar seorang penulis yang mengatakan kalau salah satu penulis Indonesia yang banyak menginspisi dirinya adalah Pramoedya Anannta Toer. Waktu itu, nama Pram masih begitu asing buatku. Lalu, aku menemukan beberapa penulis lain yang mengidolakan orang yang sama. Sayang, aku lupa kalau harus menceritakan siapa.

Bunga Penutup Abad

Perkenalanku berlanjut, pertengahan tahun 2016 lalu aku menemukan teaser pementasan Teater Bunga Penutup Abad di media sosial. Diperankan sederet artis ternama seperti Reza Rahardian, Chelsea Islan, dan Happy Salma. Teater tersebut merupakan adaptasi dari roman terkenal Pram yakni, Bumi Manusia. Lagi-lagi, aku belum tahu siapa itu Pram. Tetapi, melihat teaser teaternya yang dibintangi Reza Rahardian, ini pasti bukan sembarang adaptasi novel, kataku dalam hati.



Singkat cerita, aku menemukan juga buku Bumi Manusia di salah satu toko buku yang ada di Depok. Aku lihat kover bukunya, khas novel-novel zaman dulu. Pada saat itulah aku paham, “Bunga Akhir Abad” merujuk pada sosok Annelis Mellema, gadis campuran Belanda – Jawa yang cantiknya tiada terkira, tak kalah cantik dari Ratu Wilhemina. Ya, dalam imajinasiku, Chelase Islan cukup mewakili kecantikan sosok Annelis. Huehueh.

Lalu aku baca pengantarnya, sebenarnya sih bukan pengantar tetapi sedikit informasi mengenai sosok Pram yang ditulis oleh penerbit pada lembar pertama setiap buku-buku Pram. Dari situ aku mulai jatuh cinta dengan Pram. Diceritakan pada tulisan tersebut, bahwa Pram menghabiskan hampir separuh hidupnya dalam penjara. Satu tahun dalam masa kolonial Belanda, 3 tahun dalam masa Orde Lama. Pada masa Orde Baru, Pram melewati 14 tahun yang melelahkan sebagai tahanan di Pulau Buru tanpa pernah menjalani proses pengadilan karena diduga sebagai anggota Partai Komunis Indonesia. Sejak meletusnya peristiwa 1965, Orde Baru memang menyingkirkan  semua orang yang diduga terlibat dalam PKI, meskipun sebenarnya hanya terkait dan bukan anggota PKI.

Menariknya, di dalam penjara pun Pram masih sempat untuk menulis. Memang, bagi Pram menulis menjadi tugas nasional yang harus ia pegang teguh sampai akhir hayat. Sepanjang hidupnya, Pram terhitung telah menghasilkan sekitar 51 karya. Buku-bukunya, yang oleh Pram disebut sebagai anak-anak rohaninya, hidup dengan ceritanya masing-masing. Ada yang lahir dari masa-masa ia ketika di Lekra (sebuah organisasi perkumpulan yang berafiliasi dengan PKI), ada juga yang dilahirkan susah payah di penjara.

Tetralogi Bumi Manusia yang mengisahkan pergolakan kemerdekaan Indonesia di awal abad ke 20, sukses besar hingga diterjemahkan ke 41 bahasa di dunia. Tetralogi yang berisikan empat roman berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca tersebut menampilkan sosok Minke sebagai tokoh utama, yang merupakan representasi sosok Raden Mas Tirto Adi Suryo, orang yang terkenal sebagai perintis pers pribumi di Hindia Belanda.

Sosok RM Tirto Adi Suryo tersebut menjadi penting karena Ia bukan saja dianggap sebagai perintis industri pers pribumi, namun kesadarannya menggunakan kekuatan jurnalistik untuk melawan sistem Pemerintahan Hindia Belanda yang tidak pro terhadap nasib pribumi. 

Sosok RM Tirto Adi Suryo disebut-sebut sebagai tokoh pegerakan Indonesia pertama yang menggunakan jalur modern untuk berjuang. Dalam bukunya yang lain, Pram bahkan menggelari RM Tirto Adi Suryo sebagai Sang Pemula. Pengaruhnya sangat besar pada saat itu, bahkan karena aktivitasnya yang bagi pemerintah kolonial Belanda mengancam stabilitas, Tirto pun kemudian dibuang ke Maluku.

Idola Banyak Penulis


Sewaktu magang di Gagasmedia, sebuah penerbit buku remaja populer di Indonesia, aku cukup banyak berdiskusi tentang buku dengan Mbak Re, pemimpin redaksi Gagas. Waktu itu, aku masih berusaha menyelesaikan Bumi Manusia tersebut. Jadilah, kita berdiskusi tentang itu.  

Beliau ternyata juga membaca karya Pram, meskipun tidak mengungkapkan kesukaannya. Beliau sedikit memberi spoiler, “Kalau di buku pertama lo masih bisa melihat sisi romancenya, tapi kalau udah buku selanjutnya hampir politik semua.” ungkap Mbak Re. Oh ya, namanya Resita Febiratri.
Pekerjaanku sebagai Social Media Admin, membuatku harus mengikuti beberapa talkshow untuk mempromosikan buku-buku terbaru Gagasmedia. 

Di saat itulah, aku kenal dengan seorang penulis muda, Gilang KR namanya, yang baru saja menulis buku berjudul Bahagia Setengah Hati. Dalam setiap kesempatan talkshow, Gilang selalu mengungkapkan bahwa Ia sangat mengidolakan Pram. Ia takjub dengan cerita dan gaya kepenulisan Pram, terutama bagaimana Ia mendeskripsikan setiap tokoh maupun latar peristiwa dengan sangat baik. Saat itu, aku sudah menyelesaikan roman Bumi Manusia.

Belakangan, salah satu teman kosanku, juga ternyata menyukai karya Pram. Ia lebih beruntung daripadaku karena sudah membacanya sewaktu SMP. Katanya, kakaknyalah yang menyuruhnya untuk membaca buku-buku Pram. Pada saat itu, semakin aku mengenal Pram, semakin aku tahu kalau sosok yang satu ini memiliki banyak sekali penggemar. Aku sampai punya hipotesa, kalau penulis-penulis besar pasti pernah membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Hehehe.

Jadi, itulah sekilas perkenalanku dengan Pramodya Annta Toer. Aku menyesal baru mengenalnya sekarang, namun aku juga bangga telah membaca karya-karya beliau, setidaknya keempat roman Tetralogi Bumi Manusia. Oh ya, bagian kedua nanti, aku ingin sekali menceritakan bagaimana Pramoedya Annata Toer mengubah pandangan hidup saya. Ditunggu yaa. Salaam :-D

© Syahid Muhammad. All rights reserved. Developed by Jago Desain