Jauh sebelum Ir
Sukarno, Muhammad Hatta, atau tokoh pejuang lainnya eksis di kancah perjuangan
kemerdekaan Republik Indonesia, telah lahir sosok pemikir dan penggerak
perjuangan bangsa di awal abad ke 20 bernama Raden Mas Tirto Adhi Suryo. Namanya
hampir tidak pernah disebutkan dalam buku-buku pelajaran sekolah atau film-film
berlatar belakang sejarah. Padahal, RM Tirto Adhi Suryo boleh dikatakan sebagai
perintis perjuangan bangsa dengan model perjuangan yang baru, yang lebih modern,
yakni dengan jalan pers dan organisasi.
Tak banyak literatur
yang menjelaskan sosok RM Tirto Adhi Suryo tersebut. Orang banyak mengenalnya
dari roman tetralogi Bumi Manusia
karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini sukses besar, dan mengangkat Pram,
begitu sebutan penulisnya, sebagai salah satu penulis Indonesia yang namanya
berkali-kali masuk sebagai nominasi peraih nobel sastra. Pada novel pertama
berjudul Bumi Manusia, Pram
menggambarkan RM Tirto Adhi Suryo sebagai siswa HBS bernama Minke, sebuah nama
pemberian gurunya di sekolah, alih-alih berasal dari kata monkey.
Sejak perkenalannya
dengan Nyai Ontosoroh, seorang nyai (isteri simpanan orang Belanda) Ia
mendapatkan suatu pemahaman baru mengenai realitas kehidupan masyarakat pribumi
yang penuh dengan penderitaan, ketidakadilan, diskriminiasi dan berbagai fakta
menyedihkan lainnya yang luput dari pengamatanya sebagai seorang pribumi
terpelajar. Novel kedua berjudul Anak
Semua Bangsa merupakan periode observasi bagi Minke untuk lebih mengenal
bangsanya sendiri. Sementara pada Jejak
Langkah, buku ketiga tertralogi Bumi Manusia menceritakan jalan hidup yang
ditempuh Minke untuk tidak tinggal diam terhadap penderitaan yang menimpa
bangsanya.
Ia memilih drop out dari sekolah kedokteranya di
STOVIA (Sekarang fakultas kedokteran Universitas Indonesia) untuk fokus
menggeluti dunia jurnalistik melalui surat kabar yang didirikannya. Sementara
pada buku terakhir berjudul Rumah Kaca,
Pram menggambarkan akhir hayat RM Tirto Adhi Suryo atau Minke yang gugur
sebagai pahlawan yang tak dikenal oleh rakyatnya sendiri, akibat pengasingan
yang dilakukan oleh Belanda.
Tirto Sebagai Sang Pemula
Meskipun tetralogi
Bumi Manusia merupakan jenis karya fiksi yang sudah bercampur dengan bangun
khayal penulisnya, tertralogi ini dianggap layak dijadikan bahan bacaan untuk
mengenal lebih dekat sosok RM Tirto Adhi Suryo. Delapan tahun setelah buku
keempat terbit, Pram melengkapi kisah RM Tirto Adhi Suryo melalui buku non
fiksi berjudul Sang Pemula yang
disertai dengan karya jurnalistik dan tulisan fiksi RM Tirto Adhi Suryo.
RM Tirto Adhi Suryo dikenal
sebagai bapak pers nasional atas jasanya merintis surat kabar pribumi. Surat
kabar pertama yang ia dirikan adalah Soenda Berita yang terbit pada 1903. Ia
juga mendirikan surat kabar Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Sebagai
seorang jurnalis, Tirto aktif memperjuangkan aspirasi masyarakat saat itu. Ia
juga tidak ragu menyampaikan kritik yang keras terhadap pemerintah kolonial
Belanda yang tidak memihak terhadap kepentingan pribumi.
Medan Prijaji yang Ia
pimpin, dianggap sebagai surat kabar nasional yang pertama terbit karena dalam
keseluruhan proses produksi dan penerbitannya, dikerjakan oleh putra-putri
pribumi sendiri. Surat kabar ini menjadi menarik bagi kalangan pribumi karena
membuka satu rubrik khusus yang berisi penyuluhan hukum. Oleh banyak pihak, RM
Tirto Adhi Suryo ini disebut sebagai orang pribumi pertama yang menggunakan
jurnalistik sebagai alat pembentuk opini publik untuk memberikan
tekanan-tekanan terhadap pemerintah kolonial saat itu.
Tidak berhenti sampai
disitu, RM Tirto Adhi Suryo juga berjuang melalui jalan organisasi. Ia
mendirikan sebuah perkumpulan bernama Sarikat Priajaji pada tahun 1906, dua
tahun sebelum Budi Utomo berdiri. Ia juga berperan dalam pendirian Sarekat
Dagang Islam yang kelak menjadi Sarekat Islam, entah mengapa peranannya ini
jarang sekali atau hampir tidak pernah disebutkan. Hanya nama Haji Samanhudi lah
yang selalu disebut sebagai pendiri
Sarekat Dagang Islam.
Jika nama Raden Mas
Tirto Adhi Suryo ini masih asing di telinga sebagian besar masyarakat
Indonesia, itu dapat dimaklumi. Pemerintah Kolonial Belanda konon menghapus
semua catatan yang menyangkut riwayat hidup RM Tirto Adhi Suryo. Hanya ada
sedikit catatan dari beberapa sumber lain yang mengungkap sosok yang sebenarnya
berasal dari kalangan ningrat ini. Beruntung, Pramoedya Ananta Toer mengungkap
biografinya dalam Bumi Manusia, meskipun juga sempat dilarang peredarannya oleh
rezim Orde Baru.
Jurnalisme Masa Kini
Nama RM Tirto Adhi
Suryo meskipun terdengar sayup-sayup, masih tetap hidup dalam catatan sejarah
bangsa Indonesia. Bagi kalangan jurnalis, namanya abadi sebagai bapak pers
nasional yang membanggakan, bukan hanya karena mendirikan surat kabar pertama,
namun karena jasanya menggunakan jurnalistik sebagai alat perjuangan. Bahkan,
sebuah media online menggunakan kata Tirto sebagai nama medianya.
Kita mengenal nama-nama jurnalis
Indonesia saat ini yang cerdas, memiliki integritas dan kritis salah satunya
adalah Najwa Shihab. Di Metro TV, ia dikenal sebagai wartawan dengan kode 01
karena merupakan wartawan pertama yang dimiliki stasiun televisi berita itu.
Melalui program Mata Najwa, perempuan yang akrab disapa Nana ini berhasil menarik
perhatian jutaan pemirsanya.
Mata Najwa menjadi program yang
ditunggu karena tema-tema yang diangkat adalah tema yang sedang menjadi
perhatian luas masyarakat. Selain itu, kemampuannya dalam menggali informasi
dari narasumber juga banyak menuai decak kagum. Pertanyaan Najwa Shihab
sejatinya bukanlah pertanyaan spontan yang keluar begitu saja. Itu adalah hasil
dari proses kerja jurnalistik yang melibatkan riset data yang panjang. Dalam
buku yang ditulis oleh Brilianto K. Jaya, Najwa berkata “Never ask question
that you don't know answer to".
Jurnalistik
sesungguhnya memiliki fungsi sebagai anjing penjaga (watchdog). Ia melakukan pengawasan
terhadap berbagai lembaga yang memiliki kekuasaan di dalam masyarakat. Dalam
kehidupan berdemokrasi, peran jurnalistik penting untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) yang berujung pada
otoriterisme seperti yang terjadi pada masa Orde Baru. Pengawasan yang
dilakukan media tentu dengan kritik yang membangun dan santun. Kritik ditujukan
kepada “apa” yang salah bukan pada “siapa” yang salah.
Selain anjing penjaga atau watchdog,
dikenal juga di dalam jurnalistik istilah jurnalisme pembangunan. Selain
mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat kecil,
jurnalis juga diharapkan untuk jujur mengakui bilamana ada kemajuan-kemajuan
yang dicapai pemerintah. Kemajuan itu lantas diangkat ke layar media,
diapresiasi sehingga menimbulkan
optimisme publik.
Gambar: Tirto.id
*Artikel ini ditulis untuk Majalah
Pers Mahasiwa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta Edisi Desember
2017
