Postingan

Membela Palestina di Jalan Sunyi




 Banyaknya orang Indonesia (red:netizen) yang memprotes kunjungan KH. Yahya Chollil Staquf ke Israel setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, orang masih belum memahami apa dan bagaimana perjuangan diplomasi bagi kemerdekaan sebuah bangsa. Kedua, orang hanya memandang hitam-putih saja soal konflik Israel-Palestina.

Banyak dari kita mengira bahwa berjuang untuk Palestina berarti ikut membantu rakyat Palestina melawan Israel dengan cara berdemonstrasi, menggalang dana, mengirim bantuan atau bahkan memboikot produk-produk yang dianggap kepunyaan Israel. Di media sosial, dukungan terhadap Palestina ditunjukkan dengan membuat aneka hestek seperti #SavePalestine, #SaveAlQuds dan sebagainya.

Masyarakat dunia maya bersatu padu meneriakkan kecaman demi kecaman terhadap Israel yang berulang kali menyakiti bangsa Palestina. Tetapi maaf seribu kali maaf, sumbangan seperti itu nyaris tidak membantu menyelesaikan akar permasalahan dari konflik Palestina-Israel itu sendiri.

Kata akar permasalahan sengaja saya tebalkan untuk menunjukkan point penting dalam tulisan ini. Bantuan yang kita kirim ke sana memang sesuatu yang baik dan memang seharusnya dilakukan. Tetapi, apakah bantuan yang kita berikan dapat membuat Palestina menang dari Israel, atau setidak-tidaknya menghentikan aksi Israel yang jahat itu? Tidak. Kita hanya memberikan obat betadine bagi warga Palestina yang terluka, sementara kita sama sekali tak menghentikan pelaku yang melakukan aksinya, lagi dan lagi. Bukankah begitu?

Palestina sesungguhnya membutuhkan solusi yang lebih kongkrit daripada sekadar bantuan dana apalagi hestek. Solusi tersebut  haruslah yang bertujuan untuk menciptakan perdamaian abadi, tidak lain daripada itu. Ibarat pepatah, kalau kita memberi ikan pada seseorang, ia akan makan dalam sehari. Tetapi kalau kita memberikannya pancing, maka ia bisa makan selamanya. Jadi, apa yang kita beri pada Palestina? Ikan atau kah pancing?

Sementara itu, perdamaian abadi hanya dimungkinkan bila kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri kekerasan dengan membuat kesepatan-kesepatan baru. Peranan Indonesia sebagai sebuah bangsa dengan umat Islam terbanyak di dunia dibutuhkan untuk mendorong kesepakatan tersebut di forum-forum internasional. Indonesia harus mampu membuat Israel agar menghentikan tindakan-tindakannya yang brutal.

Lebih Kompleks dari yang Kita Bayangkan

Di sisi lain, dorongan seperti itu sudah berulang kali dilakukan namun hasilnya juga boleh dibilang nihil. Palestina menghadapi kekuatan yang begitu besar karena Israel menguasai segalanya dengan Amerika Serikat sebagai kawan setia. Saat tulisan ini dibuat, Amerika menyatakan mengundurkan diri dari keanggotaanya di Dewan Keamanan PBB. Ini tidak lain disebabkan karena pembelaannya pada Israel yang merasa “dizdolimi” oleh anggota DK PBB sendiri.

Apa yang dilakukan oleh KH. Yahya Cholil Staquf ini hanyalah satu dari banyak pilihan jalan untuk mendorong perdamaian itu. Tentu saja, Ia berpidato di sana tidak untuk memarah-marahi atau mengecam-ngecam orang Israel. Logikanya saja, Israel tak mungkin mengundang seseorang jauh-jauh dari Indonesia, negara yang mayoritas muslim pula hanya untuk dikecam-kecam.

Oleh karena itu, kesempatan diundang tersebut dimanfaatkannya untuk membela kepentingan Palestina tanpa harus mengecam-ngecam publik di sana.  Ia mengawali isi pidatonya dengan mengajak hadirin untuk merenungi apa sebab musabab dari pertikaian yang tak kunjung selesai ini.

Saya tidak tahu, apakah masih ada diantara kita yang menyaksikan sendiri, bagaimana semua ini dimulai. Yang jelas, kita semua adalah anak-anak dari sejarah yang penuh masalah (troubles). Sejarah yang diwarnai curiga, kebencian, rasa sakit dan amarah. Sejarah yang bergulir diluar kendali kita.

Setelah itu, Ia menyindir perjalanan berdirinya negara Israel selama 70 tahun dengan segala kemelutnya yang tak kunjung selesai.

Kini Anda memperingati 70 tahun berdirinya Negara Israel. Baiklah. Sudah berapa banyak, sejak 70 tahun yang lalu itu, orang mencoba menghentikan kemelut ini? Kakek-nenek kita? Bapak-ibu kita?
 Orang-orang besar datang dan pergi. Melakukan tindakan-tindakan paling berani. Berjuang untuk saling mengalahkan atau mendamaikan. Dan hari ini, kita masih seperti ini.

Untuk itu, Ia mengemukakan kembali pandangan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di forum yang sama 16 tahun lalu tentang sebab konflik Israel-Palestina ini yang tak kunjung selesai. Menurut Gus Dur penyelesaian konflik yang dilakukan selama ini hanya mempertimbangkan aspek politik dan militer. Tokoh yang tampil untuk mencoba menyelesaikan permasalahan ini hanyalah tokoh-tokoh politik dan militer saja. Dan ini, terbukti gagal.

Lantas, di mana pembelaannya terhadap Palestina? Nah, ini menariknya. Ini yang sama maksudkan pada point kedua di atas tentang pandangan kita yang hitam putih soal konflik di tanah Yerussalem. Perlu diketahui bahwa KH Yahya Staquf berbicara di depan komunitas masyarakat Yahudi Amerika.

Maka sejalan dengan gagasan Gus Dur, Ia mengajak untuk membawa unsur-unsur agama dalam upaya penyelesaian konflik ini dengan “memberdayakan inspirasi-inspirasi agama dan melibatkan pemimpin-pemimpin agama”. Dengan kata lain mengajak umat Yahudi untuk bersama-sama dalam menghentikan konflik ini.

Tetapi mungkinkah Yahudi bisa diajak bekerjasama seperti itu?. Bila dalam pikiran kita sudah dipenuhi oleh informasi tentang liciknya orang Yahudi sejak dulu, memandang bahwa konflik ini adalah soal Yahudi Vs Islam, atau terpatri anggapan bahwa orang Islam dan Yahudi sudah ditakdirkan untuk berseteru sampai kiamat, maka jawabannya tentu saja tidak. Tetapi, bila kita mampu melihat ke dalam, secara lebih dekat dan lebih adil, kita akan menemukan bahwa banyak pula kaum Yahudi yang tak mengehendaki kekerasan yang terjadi.

Konflik yang terjadi di Palestina disebabkan oleh zionisme yang merupakan gerakan orang Yahudi untuk membentuk sebuah negara sendiri. Tetapi, yang mungkin kita tidak tahu, banyak pula orang Yahudi yang tidak menyetujui agenda ini.  Kita bisa menemukan kelompok ultra-ortodoks Yahudi bernama Neturei Karta, misalnya. Kelompok ini Yahudi ini tegas menolak melawan zionisme yang telah mengakibatkan tragedi kemanusiaan.  

Mereka kerap melakukan aksi-aksi untuk menentang aksi zionisme dan mendukung perjuangan Israel. Di Twitter, saya juga mengikuti sebuah akun milik truetorahjews.org, kelompok ini aktif menyuarakan pesan kepada dunia bahwa Israel tidak merepresentasikan orang Yahudi. Dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia, Gus Yaquf begitu ia akrab disapa, mengatakan kalau kelompok-kelompok ini, kelompok yang percaya pada perdamaian, semakin berkembang di dalam negeri Israel sendiri.

Inilah yang menurut pemahaman saya menyangkut visi KH Yahya Chollil maupun Gus Dur, bahwa kita harus mengajak semua unsur terutama unsur keagaaman untuk menyatukan visi perdamaian. Menghapuskan segala macam kecurigaan dan dendam sejarah untuk membentuk dunia baru yang lebih damai

Jika ditengah perseteruan ini kita terus ngotot memandang pihak lain sebagai musuh, bagaimana mungkin kita mampu melihat peluang bagi perdamaian? Apa gunanya berbagi ini dan itu, menyepakati ini dan itu, mengatakan ini dan itu, jika kita tak pernah bersedia melepaskan cita-cita untuk membasmi lawan? Apakah kita akan terus bertarung sampai salah satu pihak musnah, walaupun harus selama-lamanya hidup dalam kesengsaran?

Gagal Paham

Saya jadi curiga, tidak tertariknya masyarakat pada metode perjuangan seperti ini disebabkan karena kesalahan mengartikan proses perjuangan pada bangsa kita sendiri. Pemahaman sejarah kita misalnya, terutama yang menyangkut kemerdekaan Indonesia lebih banyak diisi oleh aksi-aksi heroik seperti Perang Diponegoro, Perang Aceh, Pertempuran 10 November, sampai Penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.

Saya jadi teringat sosok RA Kartini, yang dalam catatan sejarah juga pernah atau bahkan masih disalahartikan. Banyak orang berkomentar bahwa Kartini tidak pantas disebut sebagai tokoh emanisipasi wanita, karena ia sama sekali tak menenteng senjata,  malah bersahabat dengan orang-orang Belanda. Kita bisa melihat meme satire yang menyinggung hal ini di media sosial setiap masyarakat merayakan hari kelahiran Kartini.

Ada pula nama-nama lain seperti Muhammad Husni Thamrin yang memperjuangkan nasib pribumi di Volksraad atau Haji Agus Salim yang terkenal dengan kecerdikannya dalam berdiplomasi.  Mereka tentu saja tidak mengangkat senjata atau melakukan aksi-aksi heroik yang orang akan ingat. Tetapi, peran dan jasanya nyata.
Begitu juga bila kita memandang Palestina.

© Syahid Muhammad. All rights reserved. Developed by Jago Desain